Lilik Rosida Irmawati lahir di Jember 16 Juli 1964, aktif menulis sejak SPG Bondowoso tahun 1983, Karya-karyanya banyak dimuat di media cetak, seperti koran Bhirawa, Karya Darma, Surya, majalah pendidikan dan majalah umum di Jawa Timur dan sejumlah media di Jakarta berupa cerpen, esai, opini, feature, dan artikel umum. Dekade tahun 1999 sampai 2014 menjadi jurnalis di Tabloit ‘Infokom’ kabupaten Sumenep dengan nama pena El Iemawati.
Buku yang diterbitkan antara lain “Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura,” penerbit Sick Surabaya(2004); “Gai’ Bintang,”Disparbud Sumenep (2007); Antologi Cerpen tiga Paragraf berjudul “Dari Robot Sempurna Sampai Alea Ingin ke Surga,” (2017) dan 2018 akan terbit lagi kitab Pentigraf 2 (2018). dan Kitab Pentigraf 3: “Laron-Laron Kota” (2019), KItab Pentigraf 4: Dongeng Tentang Hutan dan Negeri Hijau (2020), dan Kitab Pentigraf Edisi Khusus: Sepersejuta Milimeter dari Corona (2020) dan buku Serpihan Puisi “Sampai Ambang Senja” (2024)
Ia juga pernah pengasuh acara On Air di Radio Gema Sumekar (RGS) (2010 sd. 2016) dalam acara, “Budaya Kita,” memotori gerakan literasi hingga terbentuk “Rumah Literasi Sumenep” sebagai ketua dengan tujuan mengembangkan dan membangun budaya literasi bagi kalangan guru dan siswa. Ide-ide kreatif dan inovatifnya telah mencetak para guru dan siswa mampu mengembangkan potensi menulis dan memiliki keterampilan sebagai presenter radio yang handal melalui program Eksaina (Ekspresi Anak Indonesia).
Pada tahun 2004 s/d tahun 2008 pernah mengasuh acara Pendidikan di RRI Prosatu Sumenep, dan pada tahun 2017 s/d tahun 2019 mengasuh mata acara siaran, “Rumah Literasi” di RRI Prosatu Sumenep yang memperbincangkan literasi dari semua aspek disiplin keilmuan dan mengundang nara sumber yang kompeten dibidangnya.
Penghargaan yang pernah diraih: Anugerah Sotasoma 2018, Balai Bahasa Jawa Timur, atas dedikasi sebagai guru terhadap pengembangan bahasa dan sastra di daerah. Dan Sumenep Award 2018, sebagai tokoh literasi
Berprofesi sebagai guru sejak tahun 1987 s/d 2012, dan menjadi kepala sekolah sejak tahun 2012 s/d 2024 serta memasuki masa purna tugas/ pensiun terhitung sejak bulan Agustus 2024.
*****
Apa yang Engkau Tunggu
Apa yang engkau tunggu seraya termangu?
Menatap ujung semesta
tak berujung
tak bertepi
tak berkesudahan, atau
melawat ujung hati
bergemuruh
gulung gemulung
berang
egois
pongah
congkak selangit?
Senyatanya
semesta jagad dan diri
semata-mata menunggu
qada dan qadar
Sang Pencipta
Jagat semesta mensyaratkan titahNya
penuh kepatuhan
tanpa penolakan
tanpa drama
tanpa tragedi
sementara
semesta diri diselubungi
peperangan tak berkesudahan
bergolak sepanjang hayat
Sang Rabb telah menganugerahi
anak- anak Adam dimensi raga dan ruh
bergerak dan menggerakkan
berputar melawan poros diri
di persimpangan
bertawaf di gemuruh sunyi
menyatukan antiklimaks
nan dramatis dalam perseteruan
tak pernah usai
Apa yang engkau tunggu?
Benih- benih bernas bertumbuh
memadati maya pada
menerabas petualangan
menguras emosi
jiwa-jiwa kerdil para dajjal
bertahta mengganyang sesama
di kemilau singgasana
sebaliknya
jiwa-jiwa yang berada digenggamanNya dipenuhi
kelembutan
kesabaran
keteguhan
ketabahan
keikhlasan
mengembangkan sayap- sayap
Rahman- RahimNya
di gugusan semesta
Lalu, apa yang engkau tunggu?
bersitatap di simpang kelam
atau
melebur dalam
selaksa warna-warniNya?
Sumenep, 28 Maret 2024
Jejak-Jejak Waktu (1)
Rabb!
Segumpal daging yang Engkau tanam
dan hidupkan di persemaian kalbu
bertumbuh penuh abstraksi purba
pemicu kekelaman
sumber kedzoliman
petaka
tragedi
perseteruan
konfrontasi
serta muara samudera cinta
Sang Maha Kasih
Rabb!
Saat Engkau mengilhamkan kebijaksanaan
anak-anak Adam berkhianat
mendewakan setitik ilmu
saat mereka berada dalam kejumudan
Engkau menitiskan mualamat
akan tetapi
saat anugerah itu tergenggam
lalu merakit kejumawaan
menepuk dada
penuh kecongkakan
Rabb!
meski Engkau wartakan
dalam kitab agungMu
iktibar
Namrud
Qorun
Firaun
senyatanya
para dajjal itu berreinkarnasi
di semesta raga bani Adam
mengulang
terulang
terulang dan mengulang
siklusnya bertawaf
sampai hari penghabisan
Senyatanya, Rabb!
insan-insan pendurhaka
senantiasa kobarkan perapian
konfrontasi diri
nalar
gairah
saat gelora bertahta
Hindun hilang akal
mencabik dada Hamzah
darah muncrat
dan pekikan menghitam
mengepul di terik sahara
Rabb!
sebiji zarrah hitam
yang Engkau tanam
akan mati, takkala
akal
akal budi
logika
hati nurani
berkelindan
melenyapkan persabungan
yang memporandakan
Hanya Kun-Mu
lubuk hati terkunci
menjadi benderang
Sumenep, April 2024
Jejak Tangis
Mas,
saat langit menangis
di penghujung pagi
ritmisnya mengguncang nurani
lantaran
titik-titiknya
meluapkan badai di hati
Mas,
saat menatap rinai hujan
seolah mempercakapkan kehidupan
tetesnya menumbuhkan padang tandus
memancarkan mata air
dan lahir akal budi
didahului setetes benih
menyembur di ruang persemaian
membentuk zigot
berkembang
ditiupkan sukma
bersemedi
tangisnya menguak
semesta
Jiwa-jiwa bernyawa
senantiasa dalam kamuflase tangis
kebahagiaan
kesedihan
kepedihan
ketakutan
keterkejutan
Air mata Hawa membuncah
saat bersitatap di padang embun
dengan kekasih abadi, Adam
Tangis Adam menghujam
menyaksikan darah sang putra membasahi bumi
air mata Masyitah mengering
saat mulut mungil bayi di buaiannya
penuh kelembutan, berbisik, "Jangan takut wahai Ummi."
air mata Musa menggelombang
menyaksikan Samiri memalingkan
kaumnya ke lembah durhaka
air mata Rasullullah, Muhammad SAW
menganak-sungai merenungkan ummatnya
air mata Ibu bersimbah darah meluapkan
kesetiaan, kesabaran, keteguhan, kegetiran, ketaatan dan kekuatan
Air mata buaya
menekuk hati perempuan
menghanyutkannya dalam ceruk pusaran birahi
dan air mataku berlinang duka
menatapmu di persimpangan jalan
Mas,
tangis langit
tangis bumi
tangis kalbu
berkelindan
bertawaf diorbitnya
Sumenep, 13 Mei 2024
Siapakah, Engkau?
Saat wujud gagahmu
kukuh tegak
aku mematung
nadamu lantang menggelegar
menggedor gerbang nafsu
menggugah fantasi
Darah bercipratan menggelora
hasrat mendaki ubun-ubun
mengegelegakkan birahi
memanggang raga
menuntaskan magma
dalam pusaran kenikmatan
Siapakah, engkau?
Diam-diam menyelusup
mendendangkan tarian seronok
menyuguhkan candu
membakar perapian
membangkitkan
bara sekam dalam kalbu
aku pun terseret alur
menjelajah cinta durjana
mengarungi labirin
dituntun tangan-tangan dajjal
mengarungi kedurhakaan
Siapakah, engkau?
Seolah utas tali rumpang
sambung menyambung
menjelajah ruang-ruang kosong
mengaliri aliran darah
bersembunyi di segumpal daging
membangkitkan
aku mendesah
menggelinjang
meraung
dan letupan-letupan akan terhenti takkala,
"nalar" menghentak
aku mundur
terjerembab
kalah
gelora yang menggebu
mati seketika
Siapakah, engkau?
Wujud absurd menyatu tak terpisahkan
menggiringku dalam pesona dajjal
mendewakan rasa haus yang tak berkesudahan
menyesatkan
memabukkan
menyalakan keserakahan
mencengkeram jagad
dalam satu tangan
Siapakah, engkau?
tak terpisahkan
Siapakah engkau, siapakah aku?
takdir yang menyatukan
bersenggama tanpa akhir
Sumenep, 20 Mei 2024
Tags:
Puisi Tamu
