Fatimah Hasan Delais (Hamidah): Suara Perempuan yang Menembus Sunyi Zaman


Dalam sejarah sastra Indonesia modern, nama Fatimah Hasan Delais atau Hamidah sering berada di antara bayang-bayang para sastrawan laki-laki. Padahal, ia adalah salah satu perempuan pelopor yang berani menulis tentang penderitaan, cinta, pendidikan, dan kebebasan perempuan ketika suara perempuan masih dianggap asing di dunia sastra. Melalui novel dan puisi-puisinya, Hamidah memperlihatkan bahwa perempuan bukan hanya objek cerita, melainkan juga pemilik pikiran, perasaan, dan perjuangan hidup yang layak didengar.

Fatimah Hasan Delais lahir di Muntok, Pulau Bangka, pada 13 Juni 1915. Ia tumbuh pada masa Hindia Belanda, ketika kesempatan perempuan memperoleh pendidikan dan ruang intelektual masih sangat terbatas. Namun sejak muda, Fatimah memperlihatkan semangat belajar yang kuat. Ia menempuh pendidikan di Meisjes Normaalschool atau Sekolah Normal Putri di Padang Panjang, Sumatra Barat, sebuah sekolah guru perempuan yang cukup bergengsi pada masa itu. Pendidikan tersebut membentuk wawasan intelektual dan kepekaan sosialnya terhadap kehidupan perempuan di lingkungan kolonial.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Hamidah kembali ke Bangka dan bekerja sebagai guru di Sekolah Rakyat Muntok. Ia kemudian mengajar di Palembang Instituut dan juga di sekolah Taman Siswa hingga masa pendudukan Jepang. Di sela kesibukannya sebagai pendidik, ia mulai aktif menulis puisi, cerita, dan gagasan tentang kehidupan perempuan. Dunia pendidikan membuatnya memahami satu hal penting: perempuan membutuhkan suara untuk memperjuangkan dirinya sendiri.

Pada dekade 1930-an, dunia sastra Indonesia masih sangat didominasi laki-laki. Nama-nama besar seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah menguasai panggung sastra Angkatan Pujangga Baru. Dalam situasi seperti itu, munculnya Hamidah sebagai penulis perempuan menjadi sesuatu yang sangat penting. Ia bukan hanya menulis, tetapi juga menghadirkan perspektif perempuan yang sebelumnya jarang muncul dalam sastra Indonesia modern.

Nama pena “Hamidah” kemudian dikenal luas ketika novel Kehilangan Mestika diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1935. Novel itu menjadi salah satu karya awal perempuan Indonesia yang berhasil menembus penerbit besar pada masa kolonial. Keberhasilan tersebut bukan perkara mudah. Balai Pustaka terkenal sangat selektif, dan penulis perempuan pada masa itu sangat sedikit mendapat kesempatan terbit. Bersama tokoh seperti Sariamin Ismail dan Soewarsih Djojopoespito, Hamidah menjadi bagian penting dari generasi perempuan pertama dalam sastra Indonesia modern.

Novel Kehilangan Mestika banyak mengandung unsur autobiografis. Ceritanya mengikuti perjalanan seorang perempuan muda yang menjadi guru, menghadapi cinta, tekanan sosial, dan penderitaan hidup. Tokoh utama dalam novel itu digambarkan sebagai perempuan yang berusaha tetap kuat di tengah kehilangan dan ketidakadilan.

Karya tersebut menjadi penting karena Hamidah menghadirkan perempuan sebagai pusat cerita. Pada masa itu, perempuan sering digambarkan sekadar pelengkap kisah laki-laki. Namun Hamidah membalik keadaan: perempuan menjadi subjek yang berpikir, memilih, mencintai, dan melawan nasibnya sendiri.

Salah satu nuansa yang kuat dalam karya Hamidah tampak dalam penggalan kalimat berikut:

“Hidup ini kadang merampas apa yang paling kita cintai.”

Kalimat itu memperlihatkan gaya kepenulisannya yang lembut, melankolis, namun penuh kekuatan emosional. Hamidah tidak menulis dengan bahasa yang meledak-ledak, melainkan dengan kesedihan yang tenang dan menyentuh batin pembaca.

Selain novel, Hamidah juga aktif menulis puisi di berbagai media sastra seperti Poedjangga Baroe dan Pandji Poestaka. Ia menjadi bagian dari lingkaran intelektual sastra yang berkembang pada masa itu. Puisi-puisinya banyak berbicara tentang perpisahan, kerinduan, harapan, dan kesunyian perempuan.

Beberapa puisi terkenalnya antara lain:

  • Berpisah
  • Kekalkah?
  • Penuh Harap
  • Meratap

Salah satu kutipan puisinya berbunyi:

“Hatiku bagai daun gugur
jatuh perlahan tanpa suara.”

Penggalan itu menggambarkan kecenderungan puisinya yang lirih dan puitis. Dalam banyak karya Hamidah, kesedihan bukan sekadar ratapan, melainkan bentuk perlawanan batin terhadap kehidupan yang keras bagi perempuan.

Perjuangan Hamidah tidak hanya hadir dalam tulisan, tetapi juga dalam kehidupannya sebagai perempuan terdidik di tengah masyarakat kolonial. Ia aktif mengajar, mendidik anak-anak, dan bahkan membuka sekolah sendiri pada masa revolusi Indonesia. Tindakan itu menunjukkan bahwa ia percaya pendidikan adalah jalan pembebasan masyarakat, terutama bagi perempuan.

Novel Kehilangan Mestika juga banyak dibaca sebagai karya yang memperjuangkan emansipasi perempuan. Dalam novel tersebut, Hamidah menggambarkan bagaimana perempuan harus menghadapi tekanan adat, stigma sosial, dan keterbatasan hidup. Tokoh perempuan dalam novel itu berusaha menentukan nasibnya sendiri, sesuatu yang pada masa itu masih dianggap melawan kebiasaan masyarakat.

Meski hidupnya tidak panjang, pengaruh Hamidah dalam sastra Indonesia sangat besar. Ia membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk menulis dan hadir sebagai kekuatan intelektual. Sesudah generasinya, lahir banyak penulis perempuan yang lebih bebas berbicara tentang tubuh, cinta, identitas, dan kemerdekaan perempuan.

Fatimah Hasan Delais wafat di Rumah Sakit Charitas, Palembang, pada 8 Mei 1953 dalam usia yang masih muda. Namun karya dan perjuangannya tidak ikut hilang. Kehilangan Mestika terus dicetak ulang selama puluhan tahun dan tetap dikenang sebagai salah satu tonggak sastra perempuan Indonesia.

Hamidah adalah bukti bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata indah. Di tangannya, sastra menjadi ruang perjuangan perempuan untuk dikenali sebagai manusia yang utuh. Ia menulis ketika perempuan belum benar-benar diberi tempat untuk bersuara. Dan justru karena itulah, suaranya terus hidup hingga hari ini.

(dari beberapa sumber)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama