Sariamin Ismail (Selasih): Perempuan Pelopor yang Mengubah Wajah Sastra Indonesia

Sariamin Ismail (Selasih) (1909–1995)

Di tengah dunia sastra Indonesia yang pada awal abad ke-20 didominasi kaum lelaki, hadir seorang perempuan dari tanah Minangkabau yang menembus batas zaman dengan keberanian pikirannya. Sariamin Ismail atau yang lebih dikenal dengan nama pena Selasih, bukan hanya menulis cerita, melainkan juga memperjuangkan suara perempuan, cinta, pendidikan, dan kebebasan batin melalui sastra. Perjalanannya adalah kisah tentang keteguhan seorang perempuan yang menolak dibungkam oleh adat, kolonialisme, dan keterbatasan zamannya.

Lahir di Talu, Pasaman Barat, Sumatra Barat, pada 31 Juli 1909, Sariamin Ismail tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat memegang adat dan tradisi. Sejak kecil ia telah memperlihatkan ketertarikan pada dunia bahasa dan sastra. Pada usia sekitar sepuluh tahun, ia mulai menulis syair dan puisi sederhana. Bakat itu berkembang ketika ia menempuh pendidikan di sekolah guru perempuan di Padang Panjang. Pada masa itu, kesempatan perempuan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas. Namun Sariamin memilih melawan keadaan dengan belajar, membaca, dan menulis.

Perjalanan hidupnya tidak mudah. Ia bekerja sebagai guru di Bengkulu, Bukittinggi, Aceh, hingga Riau. Menjadi perempuan terdidik pada masa kolonial bukan perkara sederhana. Perempuan masih dipandang sebatas penjaga rumah tangga, sedangkan dunia intelektual dikuasai laki-laki. Tetapi Sariamin justru menjadikan keterbatasan itu sebagai tenaga untuk berkarya.

Ia mulai menulis di berbagai surat kabar dan majalah, seperti Pandji Poestaka, Poedjangga Baroe, dan Soeara Kaoem Iboe Soematra. Dalam tulisan-tulisannya, ia berani mengkritik praktik poligami, ketidakadilan terhadap perempuan, dan tekanan adat yang sering membungkam kebebasan perempuan. Karena suasana politik kolonial cukup keras terhadap tulisan yang dianggap menghasut, ia memakai banyak nama samaran, di antaranya Selasih, Seleguri, Sri Gunung, dan Mande Rubiah.

Nama “Selasih” kemudian menjadi sangat terkenal setelah novel Kalau Tak Untung diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1933. Novel ini mencatat sejarah sebagai novel pertama di Indonesia yang ditulis perempuan. Kehadiran novel itu menjadi tonggak penting dalam sejarah sastra Indonesia modern. Pada saat banyak perempuan belum diberi ruang untuk berbicara, Sariamin tampil dengan keberanian luar biasa: menulis tentang cinta, penderitaan, pilihan hidup, dan suara hati perempuan.

Novel Kalau Tak Untung berkisah tentang Rasmani dan Masrul, dua sahabat masa kecil yang saling mencintai namun akhirnya dipisahkan oleh keadaan dan nasib. Cerita itu tidak sekadar kisah cinta biasa, melainkan juga potret kegelisahan perempuan terhadap ketidakpastian hidup dan kerasnya adat sosial.

Salah satu penggalan yang menggambarkan nuansa karya Selasih adalah:

“Hidup manusia tiada dapat ditebak oleh kehendaknya sendiri.”

Kalimat sederhana itu memperlihatkan ciri kuat karya Sariamin: melankolis, reflektif, dan sarat pergulatan batin manusia.

Karya tersebut juga dianggap berbeda dari novel-novel sezamannya. Jika banyak novel masa Balai Pustaka menyoroti konflik adat dan generasi tua-muda, Sariamin lebih menekankan penderitaan emosional perempuan dan hubungan cinta yang kandas oleh nasib. Tokoh-tokoh perempuannya hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pusat kesadaran cerita.

Setelah keberhasilan Kalau Tak Untung, ia menerbitkan novel Pengaruh Keadaan pada tahun 1937. Novel ini kembali memperlihatkan keberpihakannya pada nasib perempuan. Selain novel, ia juga aktif menulis puisi dan cerita anak. Beberapa karya pentingnya antara lain:

  • Kalau Tak Untung (1933)
  • Pengaruh Keadaan (1937)
  • Puisi Baru (1946)
  • Rangkaian Sastra (1952)
  • Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979)
  • Panca Juara (1981)
  • Nakhoda Lancang (1982)
  • Kembali ke Pangkuan Ayah (1986)

Selain sebagai sastrawati, Sariamin juga dikenal aktif dalam organisasi perempuan dan pendidikan. Ia pernah menjadi tokoh di Jong Islamieten Bond bagian perempuan di Bukittinggi. Sesudah Indonesia merdeka, ia bahkan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah di Riau pada akhir 1940-an. Hal itu menunjukkan bahwa perjuangannya tidak berhenti di dunia sastra, tetapi juga bergerak dalam kehidupan sosial dan politik.

Yang membuat Sariamin Ismail begitu penting dalam sejarah sastra Indonesia bukan hanya karena ia “yang pertama”, tetapi karena keberaniannya membuka jalan. Pada masa ketika perempuan dianggap tidak layak bersuara di ruang publik, ia hadir sebagai pengarang yang berpikir maju. Ia membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi pencipta gagasan, penggerak kebudayaan, dan penjaga nurani masyarakat.

Perjuangannya memberi pengaruh besar bagi lahirnya generasi penulis perempuan setelahnya. Nama-nama seperti NH Dini, Toeti Heraty, hingga Ayu Utami hadir di jalan panjang yang salah satunya telah dibuka oleh Selasih.

Sariamin Ismail wafat di Pekanbaru pada 15 Desember 1995. Namun warisannya tidak pernah benar-benar pergi. Dalam sejarah sastra Indonesia, ia tetap dikenang sebagai perempuan yang menulis ketika perempuan belum diberi ruang untuk berbicara. Ia adalah suara sunyi yang akhirnya menjelma gema panjang dalam kesusastraan Indonesia.

(dari beberapa sumber)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama