Jalan Tembus Bulan Purnama



Cerpen : El Er Iemawati

“Mas, udah malam lho. Kenapa nggak nginap saja?”
Suara Miswan terdengar berat menahan cemas di teras rumahnya. Jam di dinding sudah menunjuk 21.30.

Bagyo tertawa, menepuk bahu iparnya. “Adikmu ini lho, pengin pacaran lagi katanya, mumpung terang bulan.” Telunjuknya mengarah ke May yang berdiri di samping Bison 150cc mereka. Yang ditunjuk hanya cemberut, jilbab kremnya ditarik menutupi pipi.

Meski Miswan dan istrinya berulang kali mencegah, Bagyo tetap bersikukuh. Baginya, jalan baru tembus Bondowoso itu sayang dilewatkan. Aspal mulus, lampu sudah terpasang, dan bisa memangkas waktu satu jam.

“Mau jajal rute jalan baru, cuma sejam kok,” ujar Bagyo seraya melirik HP. 21.45. “Nggak usah khawatir. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati,” balas Miswan. Matanya baru lepas saat lampu belakang Bison menghilang di tikungan.

Melewati batas kota, jalanan langsung sepi. Hanya suara mesin, angin, dan jangkrik. May yang sedari tadi diam tiba-tiba bersenandung pelan, memecah hening. Lagu lawas Ebiet G. Ade mengalun gemetar:

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang kau tak duduk di sampingku kawan...

Bagyo ikut bersenandung. Dua suara itu sayup berbaur dengan deru motor, mengisi ruang malam yang disinari bulan purnama. Cahayanya lembut, memendarkan temaram ke dedaunan, ke aspal, ke wajah May yang kini tersenyum. Malam itu terasa sahdu. Seperti pacaran lagi, pikirnya.

Jalan baru yang dijanjikan Bagyo memang mulus. Lampu jalan berdiri gagah, meski jarak antartiang cukup renggang, menciptakan segmen gelap-terang yang ritmis. Sesekali mereka berpapasan dengan truk-truk besar bermuatan penuh, terpalnya berkibar dihajar angin.

“Nggak sampai sejam kita nyampe, May!” teriak Bagyo, merasakan tubuh istrinya makin merapat ke punggungnya.
“Jangan tidur,” katanya lagi, mengecilkan gas. Tangan kirinya menggelitik perut May.

May terkekeh, lalu menggebuk punggung suaminya gemas.

Jalanan kian lengang saat hutan mulai mengepung dari dua sisi. Wangi tanah dan getah basah menguar. Di sinilah rasa takut May mulai menyelinap. Ia mempererat pelukan, membenamkan wajah ke punggung Bagyo yang hangat. Bagyo menggeliat geli.

“May, gila kamu,” Bagyo berteriak, mengimbangi raungan knalpot.

May tak peduli. Justru kepalanya bergerak ke kanan-kiri, seperti mengusap. Seperti ada sesuatu yang merayap di punggung suaminya. Konsentrasi Bagyo buyar. Motornya oleng.

Detik berikutnya, teriakan Bagyo memecah malam. Dari arah berlawanan, sebuah motor tanpa lampu nyaris menghantam mereka. Bagyo banting setang ke kiri, hampir masuk selokan.

Sesaat hening lagi. Hanya bayangan lampu jalan yang ikut berlarian di aspal.

May kembali menempel. Tapi kini beda. Punggung Bagyo yang tadi hangat, tiba-tiba dingin. Dingin menusuk, seperti es. May pelan-pelan melepas rangkulan, mata tetap terpejam.

Sejak awal May sebenarnya keberatan lewat jalan ini. Jalan baru yang diresmikan awal Lebaran kemarin itu menyimpan cerita. Di pertigaannya ada dua pohon Nyamplong kembar berusia ratusan tahun. Konon, pohon itu tak bisa ditebang. Alat berat mogok, gergaji patah, operator kesurupan. Akhirnya kontraktor mengalah. Jalan dibuat mengorbankan halaman enam rumah pencari kayu di sana, membiarkan dua Nyamplong itu tetap angkuh berdiri.

Katanya, penunggunya tak mau pindah. Dan setiap orang yang lewat, siang atau malam, selalu mencium aroma melati basi. Apalagi di sisi seberangnya adalah rumpun bambu tua. Saat angin lewat, deritnya seperti orang merintih.

“Mas...” May kembali memeluk erat.
“Baca doa,” bisik Bagyo. Suaranya nyaring melantunkan Ayat Kursi, disambung doa-doa yang ia hafal. May mengikuti, suaranya bergetar.

May memberanikan diri membuka mata, melirik ke bayangan di aspal. Jantungnya hampir copot. Di bayangan motor mereka, di sisi kiri, ada tiga siluet. Bagyo, dirinya, dan satu lagi: perempuan berambut panjang, duduk di paling belakang.

Tangan May mencengkeram pinggang Bagyo. Ia menoleh. Tak ada siapa-siapa. Hanya angin malam yang menerbangkan ujung jilbabnya. Tapi di bayangan, perempuan itu nyata. Lalu pelan-pelan, bayangan itu bergeser ke tengah, menyelinap di antara ia dan Bagyo. Cekikikan lirih terdengar, dingin di telinga.

Bahu Bagyo tiba-tiba terasa berat, seperti ditindih beras sekarung. “May, jangan bercanda!” teriaknya kesakitan.

Motor oleng lagi. Kali ini tak tertolong. Ban depan menghantam lubang menganga yang tak terlihat. Bison terpental.

Teriakan mereka bergema, lalu sunyi. Bagyo mengerang. Kakinya tertindih motor. Dengan sisa tenaga ia mengangkat beban 150 kilogram itu, lalu tertatih menghampiri May yang terlempar ke pinggir jalan.

Langkahnya terhenti.

Di samping tubuh May, berdiri seorang perempuan berbaju putih. Rambutnya panjang menjuntai ke tanah, menutupi wajah. Tapi sorot mata merahnya menyala dari balik helai rambut. Ia menyeringai, menampakkan taring runcing. Cekikikannya membuat bulu kuduk Bagyo berdiri semua.

Detik berikutnya, tubuh perempuan itu melayang. Helai-helai rambutnya yang putih keperakan rontok satu per satu, turun seperti hujan, menyelimuti tubuh May yang tak sadarkan diri. Dalam sekejap, May terbungkus kafan rambut.

“Jangan!” Bagyo berteriak, tapi suaranya ditelan tawa melengking. Ia terduduk lemas, sebelum akhirnya tersadar dan mengumandangkan azan sekuatnya. Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Hantu itu turun, menatap Bagyo. “Tolong... jangan ganggu istri saya. Tolong,” Bagyo bersimpuh, air mata dan ingus bercampur.

Bukannya pergi, hantu itu malah tertawa. Tangan pucatnya menunjuk ke atas. Tubuh May yang terbungkus rambut itu melayang, naik, semakin tinggi, menembus pucuk-pucuk pohon.

Dari arah depan, derum mesin mobil terdengar. Lampu jauhnya menyilaukan, melaju sangat kencang di jalan lurus.

Dalam hitungan detik, tubuh May dijatuhkan. Tepat di depan mobil itu.

Gleduk!

Teriakan Bagyo histeris, pecah, tak berbentuk.

Sopir mobil itu panik, mengerem mendadak. Ia yakin sekali tadi jalan kosong. Hanya ada laki-laki bersimpuh di tengah jalan. Dengan kaki gemetar ia turun. Dan ia terpaku.

Di belakang mobilnya, tergeletak tubuh perempuan, diselimuti rambut putih panjang yang kini berlumuran darah.

Bagyo merangkak mendekat. Tangannya gemetar menyibak rambut yang membungkus wajah istrinya.

Lalu ia terloncat mundur.

Bola mata May terbuka. Merah. Menyala. Dari bibirnya yang pucat, lamat-lamat terdengar cekikikan. Disusul seringai mengerikan yang bukan milik May.

Bagyo tersungkur. Di bawah bulan purnama, di jalan baru yang katanya memotong waktu, ia justru kehilangan segalanya. Hanya derit bambu dan tawa dari pohon Nyamplong kembar yang menjadi saksi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama