Perempuan Madura: Ghâmparan di Siang Hari, Akeppè’ Lakè di Malam Hari


Perempuan Madura: Kerja Keras Tanpa Pilih Kasta

Ungkapan Madura “Mon sèyang dhâddhi ghâmparan, mon malem akeppè’ lakè” merangkum peran ganda perempuan Madura. Artinya: siang hari menjadi alas kaki suami untuk mencari nafkah, malam hari menjadi “penghimpit” suami. Filosofi ini menegasikan citra umum bahwa perempuan sekadar objek seksual, wadah yang menunggu dan menerima. Bagi perempuan Madura, kaidah itu tidak berlaku. Mereka aktif bekerja dan aktif pula dalam relasi dengan suami.

Sifat suka merantau membuat perempuan Madura tersebar luas, tidak hanya di Pulau Madura tetapi juga di Jawa dan wilayah lain. Meski berbaur, mereka mudah dikenali. Perempuan Jawa umumnya menggendong barang di punggung atau menjinjing dengan tangan. Perempuan Madura berbeda: mereka menyunggi, menaruh barang di atas kepala seberat apapun. Cara ini disebut nyongghuy atau nyo’on. Karena itu, dalam kerumunan, perempuan Madura cepat teridentifikasi: beri saja barang bawaan, maka merekalah yang menyunggi.

Kebiasaan menyunggi lahir dari pengalaman masa kolonial. Dulu banyak perempuan berjualan keliling dengan menjinjing atau mencangking. Pedagang perempuan Madura sering dipanggil tuan dan nyonya Belanda karena dagangannya disunggi. Posisi di atas kepala dianggap lebih bersih, jauh dari debu dan tetesan keringat. Melihat itu, pedagang lain ikut meniru. Lama-lama menyunggi menjadi kebiasaan.

Blijhâ: Perempuan Mlijhâ yang Menghidupkan Dapur

Perilaku perempuan Madura di sektor informal paling tampak pada profesi blijhâ atau mlijhâ, yakni penjual sayur keliling dari rumah ke rumah. Di daerah Mataraman, Jawa, profesi ini disebut bakul èthèk atau èklèk. Banyak dijalankan perempuan Madura. Aktivitas mereka dimulai sejak tengah malam.

Keperkasaan mereka tidak hanya di pasar. Di pertanian, pabrik pengeringan tembakau, perkebunan, hingga pasar tradisional, perempuan Madura bekerja 11 jam per hari. Mereka berangkat pagi, pulang sore, bahkan lembur sampai malam. Setidaknya separuh aktivitas ekonomi informal di desa maupun kota digerakkan perempuan. Fenomena ini tidak terbatas di Madura, tetapi juga di wilayah rantau.

Hal ini lahir dari tata nilai masyarakat Madura: semua anggota keluarga wajib bekerja mencari nafkah dan mengurus rumah tangga bersama. Hidup disambung dari pagi hingga petang. Kerja produktif tidak dipisah antara pekerjaan sosial dan domestik.

Etos Kerja Tanpa Pilih-pilih

Untuk bertahan, perempuan Madura bersedia melakukan pekerjaan apa saja, dalam kondisi apapun, di sektor manapun. Mereka tidak memilih jenis kerja. Jika perempuan Jawa perlu berpikir ribuan kali untuk menjadi pemulung atau tukang parkir, perempuan Madura langsung menjalaninya. Yang penting bisa membantu ekonomi rumah tangga.

Etos kerja inilah yang membuat Belanda pada 1878 mendatangkan orang Madura, termasuk perempuannya, untuk membuka lahan perkebunan di Jember. Tenaga mereka dibutuhkan sebagai pembabat hutan, penanam dan penyiram tembakau, serta pengangkut panen. Alasan Belanda: etos kerja bagus, upah murah, dan terbiasa menanam tembakau.

Di tanah rantau, komunitas Madura membentuk pola permukiman seperti di kampung halaman. Meski tersentuh modernisasi, bentuk rumah, suasana kampung, bahasa, kesenian, dan kebiasaan di Jember, Probolinggo, Pasuruan, Situbondo, Bondowoso, masih mirip dengan di Madura.

Rumah sebagai Unit Ekonomi

Bagi masyarakat Madura, keluarga bukan sekadar tempat reproduksi. Rumah adalah unit ekonomi terkecil, tempat memenuhi sandang, pangan, papan. Karena itu, perempuan Madura, kecuali dari kalangan priyayi, lebih bebas bekerja. Mereka tidak merasa bersalah meninggalkan rumah. Martabat tidak diukur dari penampilan, tetapi dari posisi dalam proses produksi dan pembagian hasil.

Status laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga setara. Ekonomi dipecahkan bersama, pendidikan anak juga diatasi bersama. Pembagian kerja lebih egaliter, terbuka, dan adil. Perempuan bekerja di luar rumah adalah hal biasa. Tidak seperti pakem Jawa tradisional yang kaku: ibu di dapur, bapak di sawah membaca koran. Pembagian itu bias gender.

Melampaui Dilema Tradisional vs Modern

Perempuan Madura mengemban peran ganda: peran tradisional dan pencari nafkah. Mereka lebih siap menghadapi kerasnya hidup. Anggapan perempuan lemah dan pasif secara seksual tidak berlaku. Mereka bukan sekadar “thèklèk alas kerja” di siang hari dan “lèmèk alas tidur” di malam hari. Justru mereka perkasa, kadang melebihi laki-laki. Seperti perempuan Bali yang mengangkat batu dan semen, perempuan Madura aktif di sektor informal.

Jika banyak perempuan Indonesia masih terjebak dilema tradisionalisme dan modernisme, perempuan Madura sudah melampauinya. Kebanyakan perempuan menulis “ibu rumah tangga” atau “ikut suami” di kolom pekerjaan KTP. Perempuan Madura tidak. Mereka tidak perlu merebut hak emansipasi karena hak itu sudah mereka miliki. Mereka lebih maju melepas belenggu.

Perempuan Madura sanggup mengatasi tekanan yang tumpang tindih. Di banyak tempat, malam hari perempuan terhimpit laki-laki, siang hari terhimpit ekonomi. Di Madura, justru perempuan yang “menghimpit” laki-laki. Diksi aktif untuk laki-laki dan pasif untuk perempuan tidak berlaku. Keduanya sama-sama aktif. Sebutan the second sex tidak relevan. Mereka hidup sebagai perempuan dan laki-laki sekaligus.

Egaliter tapi Menjaga Martabat

Meski egaliter, masyarakat Madura tetap punya konvensi tata nilai. Perempuan bebas bekerja, tetapi wajib menjaga martabat keperempuanan. Masyarakat Madura dikenal kuat membela kehormatan. Ada ungkapan “ètèmbhâng potè mata ango’an potè tolang”. Artinya: daripada putih mata karena malu, lebih baik putih tulang karena mati membela harga diri.

Laki-laki Madura terusik jika dianggap ta’ lalakè’ atau tidak jantan, baik fisik maupun psikis. Mereka tersinggung jika harkat kelaki-lakiannya diragukan. Sebagai suami, mereka marah bila dianggap tak mampu memberi nafkah lahir batin. Banyak kasus kekerasan terjadi karena istri berselingkuh akibat nafkah batin tak terpenuhi.

Perempuan Madura adalah potret kerja keras tanpa gengsi. Mereka mematahkan stereotip, membuktikan bahwa peran publik dan domestik bisa berjalan bersama. Egaliter, tangguh, namun tetap menjunjung harga diri. Dari blijhâ yang berangkat tengah malam hingga buruh perkebunan era kolonial, mereka menunjukkan bahwa martabat ditentukan oleh kerja, bukan oleh penampilan atau jenis kelamin. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama