Di banyak pelosok Nusantara, suara gamelan pertama yang kita dengar sering kali lahir dari ibu yang menimang anak. Pantun pertama yang kita hapal diucapkan oleh nenek saat mengajari kita makan. Tanpa kita sadari, perempuan telah lama menjadi "rumah" bagi kesenian daerah. Bukan sekadar penari di atas panggung atau sinden di balik layar, tetapi sebagai penjaga ingatan kolektif sebuah masyarakat.
Lalu, mengapa penting bagi perempuan masa kini untuk benar-benar memahami dunia kesenian daerah? Jawabannya bukan hanya soal melestarikan, tapi soal menentukan arah peradaban.
Perempuan Adalah Pewaris Pertama dan Guru Terdekat
Dalam struktur budaya Indonesia, perempuan memegang peran domestik yang justru strategis. Ialah yang mengajarkan bahasa ibu, dongeng sebelum tidur, lagu daerah saat menggendong, dan tata cara adat saat hajatan. Di Sumenep, misalnya, anak-anak mengenal saronen atau mamaca bukan dari buku sekolah, tapi dari ibunya yang bersenandung.
Ketika seorang perempuan memahami makna di balik Tari Muang Sangkal, ia tidak hanya mengajarkan gerakan. Ia mewariskan nilai: bahwa hidup perlu dibersihkan dari energi negatif. Ketika ia paham filosofi batik Sumenep dengan motif parang atau kembang bangah, ia sedang mengajari anaknya tentang keteguhan dan harapan. Tanpa pemahaman, yang diwariskan hanya bentuk. Dengan pemahaman, yang diwariskan adalah jiwa.
Jika satu generasi perempuan buta terhadap keseniannya sendiri, maka akan ada satu generasi yang kehilangan akar. Budaya tidak punah karena perang, tapi karena lupa.
Kesenian Daerah Adalah Bahasa untuk Menyuarakan Identitas
Perempuan sering kali menjadi pihak yang paling rentan kehilangan suara dalam ruang publik. Kesenian daerah memberi jalan lain. Melalui tari, tenun, tembang, atau teater rakyat seperti Ludruk dan Ketoprak, perempuan bisa bicara tentang kritik sosial, luka, harapan, dan cinta tanpa harus berteriak.
Lihatlah bagaimana para penari Gandrung Banyuwangi atau Bedhaya di keraton tidak sekadar menari. Mereka menyampaikan doa, perlawanan, dan martabat. Di tangan perempuan yang paham, macapat bukan cuma tembang kuno, tapi medium untuk mendidik anak tentang etika. Tudung saji Madura bukan cuma kerajinan, tapi simbol ketekunan dan kehormatan menjamu.
Ketika perempuan memahami seninya, ia punya bahasa sendiri. Bahasa yang tidak bisa dibungkam oleh modernisasi yang seragam. Ia bisa tetap modern tanpa tercerabut.
Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Butuh Tangan dan Pikiran Perempuan
Data Kemenparekraf menyebut ekonomi kreatif menyumbang lebih dari 7% PDB Indonesia, dan subsektor kriya, fashion, serta seni pertunjukan didominasi oleh pelaku perempuan. Batik, tenun, ukir, anyaman, tari, musik tradisi—semua lini ini hidup karena perempuan.
Tapi ada perbedaan besar antara “membuat” dan “memahami”. Perempuan yang hanya bisa membatik karena diajari turun-temurun akan kalah saing saat pasar berubah. Perempuan yang memahami filosofi, sejarah, dan nilai di balik batiknya bisa berinovasi: membuat motif yang relevan, bercerita lewat branding, masuk ke pasar digital, dan menjelaskan karyanya ke dunia.
Di Sumenep, pengrajin keris dan ukiran kayu mulai melibatkan istri dan anak perempuannya. Bukan hanya membantu mengampelas, tapi ikut mendesain dan memasarkan. Ketika perempuan paham nilai budaya di balik produknya, ia tidak menjual barang. Ia menjual cerita. Dan cerita selalu punya harga lebih tinggi.
Menjadi Filter di Tengah Arus Globalisasi
Kita tidak bisa menutup pintu dari K-Pop, TikTok, atau tren global lainnya. Juga tidak perlu. Namun tanpa akar yang kuat, generasi kita akan jadi “penonton” budaya orang lain seumur hidup.
Perempuan yang memahami kesenian daerah menjadi filter alami di keluarganya. Ia tahu kapan harus mengenalkan anak pada tembang dolanan sebelum nursery rhymes asing. Ia bisa menjelaskan bahwa Karapan Sapi bukan kekerasan pada hewan, tapi ritual syukur dan kehormatan bagi orang Madura. Ia bisa membedakan mana tradisi yang perlu dilestarikan, dan mana praktik yang memang harus dikritisi.
Pemahaman membuat kita tidak anti-asing, tapi juga tidak inferior. Kita bisa menonton drama Korea sambil tetap bangga pada Topeng Dalang Madura. Kita bisa berjoget TikTok setelah selesai latihan tari Randai. Itulah ketahanan budaya: lentur, tidak patah.
Perempuan Adalah Kurator Masa Depan
Siapa yang menentukan kesenian mana yang akan diajarkan di sanggar? Dipentaskan di acara desa? Dipakai untuk baju nikahan anaknya? Sering kali jawabannya: perempuan. Ibu, guru TK, ketua PKK, penggerak komunitas.
Jika para pengambil keputusan kecil di tingkat rumah dan kampung ini tidak paham kesenian daerah, maka yang tampil di panggung 17 Agustus hanya “dangdut orgen tunggal”. Bukan karena dangdut salah, tapi karena pilihan menjadi sempit.
Perempuan yang paham akan memperjuangkan Tari Topeng, menghidupkan Mamaca, mendaftarkan sanggar tari anak, dan memastikan musik tongtong tetap ada di festival. Ia menjadi kurator selera budaya komunitasnya.
Penutup: Dari Penonton Menjadi Pemakna
Penting bagi perempuan memahami kesenian daerah bukan agar semua harus jadi penari atau sinden. Tapi agar setiap perempuan, apapun profesinya—dokter, guru, pedagang, ibu rumah tangga—memiliki kompas identitas. Agar ia tahu dari mana ia berasal, sehingga ia tahu ke mana ia akan membawa anak-anaknya.
Kesenian daerah tanpa perempuan yang paham ibarat naskah kuno tanpa pembaca. Ia ada, tapi bisu.
Maka tugas kita hari ini: bukan hanya mengajak perempuan menonton pertunjukan. Tapi mengajaknya duduk, bertanya, dan memahami. Mengapa gong harus dipukul? Mengapa motif itu melingkar? Mengapa pantun harus dijawab?
Karena ketika seorang perempuan paham, ia tidak hanya menjaga irama. Ia menciptakan irama baru bagi masa depan. Dan dari Sumenep hingga Merauke, irama itulah yang membuat Indonesia tetap bernyanyi sebagai dirinya sendiri.(*)
