Dwi Ratih Ramadhany: Menjahit Luka, Mitos, dan Suara Perempuan dari Madura


Dari tanah Madura yang kerap dikenal keras dan patriarkal, lahir seorang penulis perempuan yang memilih menjadikan cerita sebagai ruang perlawanan sekaligus penyembuhan. Namanya Dwi Ratih Ramadhany, sastrawati asal Sampang yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal melalui karya-karya fiksi bernuansa gelap, puitik, dan sarat persoalan sosial. Melalui cerpen, novel, hingga cerita anak, ia menghadirkan dunia yang dipenuhi luka manusia, mitos kampung, kesunyian perempuan, dan ingatan-ingatan masa kecil yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ratih—demikian ia akrab disapa—merupakan penulis dan editor lepas yang tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana di Madura. Sejak kecil, ia telah akrab dengan tradisi bertutur. Sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan kreatifnya adalah sang nenek. Dari perempuan tua itulah Ratih kecil mendengar banyak dongeng, cerita rakyat, kisah mistis, legenda desa, hingga petuah hidup yang kemudian menjadi sumber imajinasi dalam karya-karyanya.

Cerita-cerita sang nenek bukan sekadar hiburan masa kecil. Dalam ingatan Ratih, kisah-kisah itu hidup seperti dunia lain yang membentuk cara pandangnya terhadap manusia dan kehidupan. Dari sanalah lahir ketertarikannya pada tema mitos, trauma, perempuan, dan kesunyian sosial yang kelak banyak mewarnai tulisannya.

Ratih mulai serius menulis sejak remaja. Ia aktif mengirim cerpen ke media massa dan mengikuti berbagai komunitas literasi. Perjalanannya sebagai penulis tidak instan. Ia melewati fase panjang penolakan naskah, kesepian kreatif, dan pencarian bentuk tulisan yang benar-benar sesuai dengan dirinya. Namun justru dari proses itulah karakter kepenulisannya terbentuk: lirih, intim, dan berani membicarakan sisi manusia yang sering disembunyikan.

Nama Dwi Ratih Ramadhany mulai mendapat perhatian lebih luas ketika karya-karyanya menembus penerbit nasional. Ia dikenal sebagai penulis yang mampu mengolah realitas sosial dengan nuansa sastra yang kuat. Tulisannya banyak bergerak di wilayah psikologis, relasi kuasa, pengalaman perempuan, serta luka keluarga yang diwariskan lintas generasi.

Salah satu karya pentingnya adalah Badut Oyen yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013. Buku ini memperlihatkan kemampuannya membangun cerita dengan atmosfer getir sekaligus absurd. Ratih tidak menempatkan tokoh-tokohnya sebagai pahlawan sempurna, melainkan manusia biasa yang bergulat dengan rasa takut, kehilangan, dan kesepian.

Pada 2017, ia menerbitkan Pemilin Kematian melalui Penerbit Sarang Semut. Buku ini semakin menegaskan identitas kepenulisannya yang dekat dengan nuansa muram dan simbolik. Dalam karya tersebut, ia banyak mengeksplorasi relasi manusia dengan kematian, trauma sosial, dan sisi gelap kehidupan yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Namanya semakin diperhitungkan setelah menerbitkan Silsilah Duka melalui Penerbit Basabasi pada 2019. Buku ini mendapat perhatian pembaca sastra karena kekuatan narasi dan keberaniannya membicarakan luka perempuan, kekerasan domestik, ingatan keluarga, dan struktur sosial yang menindas. Dalam beberapa pembacaan sastra, Silsilah Duka dianggap sebagai salah satu karya yang memperlihatkan kematangan Ratih dalam meramu bahasa yang puitik namun tetap membumi.

Selain ketiga buku tersebut, karya-karyanya juga tersebar dalam berbagai antologi cerpen dan media sastra nasional. Ia menulis tema yang beragam: dongeng, mitologi lokal, kritik sosial, isu gender, hingga psikologi perempuan. Meski demikian, ada satu benang merah yang selalu terasa dalam tulisannya, yakni keberpihakan pada manusia-manusia kecil yang hidup di pinggir kekuasaan.

Perjalanan sastranya juga ditandai dengan berbagai pengalaman penting di tingkat nasional dan internasional. Pada 2014, Ratih terpilih mengikuti Akademi Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sebuah program bergengsi yang menjadi ruang belajar bagi penulis muda Indonesia. Pengalaman tersebut memperluas cara pandangnya terhadap proses kreatif dan dunia sastra kontemporer.

Setahun kemudian, pada 2015, ia diundang sebagai emerging writer dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), salah satu festival sastra internasional paling bergengsi di Asia Tenggara. Kehadirannya di forum tersebut memperlihatkan bahwa suara penulis perempuan dari Madura memiliki tempat dalam percakapan sastra yang lebih luas.

Pada 2016, ia mengikuti Majelis Sastra Asia Tenggara, sebuah forum yang mempertemukan sastrawan dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Keterlibatan ini semakin memperkaya perspektifnya dalam melihat sastra sebagai ruang lintas budaya dan pengalaman manusia.

Tidak hanya bergerak di dunia sastra kreatif, Ratih juga aktif dalam kerja-kerja literasi dan jurnalistik berbasis isu perempuan. Pada 2022, ia memperoleh Beasiswa Peliputan Program Perempuan Berdaya di Media yang diselenggarakan oleh Project Multatuli dan We Lead. Program tersebut memperlihatkan ketertarikannya pada isu perempuan dan kelompok rentan, sesuatu yang sejak lama memang menjadi ruh dalam karya-karyanya.

Sebagai editor lepas, Ratih juga membantu banyak penulis muda mengembangkan naskah mereka. Ia percaya bahwa literasi tidak boleh berhenti pada penerbitan buku semata, tetapi juga harus membuka ruang tumbuh bagi penulis-penulis baru, terutama perempuan dari daerah.

Dalam proses kreatifnya, Dwi Ratih Ramadhany dikenal sebagai penulis yang banyak bekerja melalui pengamatan dan ingatan. Ia kerap memungut cerita dari percakapan sehari-hari, suasana kampung, kisah keluarga, hingga trauma sosial yang tersimpan dalam masyarakat. Baginya, cerita tidak selalu datang dari peristiwa besar. Kadang justru lahir dari hal-hal kecil yang nyaris dilupakan orang.

Ia juga tidak tergesa-gesa dalam menulis. Sebuah cerita bisa ia simpan lama sebelum benar-benar selesai. Ratih percaya bahwa tulisan membutuhkan kedewasaan emosi agar mampu menyentuh pembaca secara mendalam.

Sebagai sastrawati Madura, Dwi Ratih Ramadhany menghadirkan warna penting dalam sastra Indonesia kontemporer. Ia menunjukkan bahwa perempuan dari daerah tidak hanya mampu menjadi pembaca cerita, tetapi juga pencipta dunia-dunia baru melalui kata-kata. Dari Sampang, ia menulis tentang luka, tubuh, ingatan, dan perempuan dengan keberanian yang sunyi—tetapi menggema jauh.

(SP/redaksi) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama