Di tengah geliat sastra Madura yang terus tumbuh dari ruang-ruang kecil komunitas literasi, nama Juwairiyah Mawardy atau yang lebih dikenal dengan nama pena Joe Mawar hadir sebagai salah satu penulis perempuan yang tekun menjaga nyala kepenulisan dari daerah. Ia bukan sekadar penulis cerpen dan novel, melainkan sosok yang memperlihatkan bahwa dunia literasi dapat tumbuh dari kesunyian kampung, pengalaman perempuan, tradisi pesantren, dan denyut kehidupan masyarakat Madura sehari-hari.
Lahir dan besar di Sumenep, Madura, Joe Mawar mulai menulis sejak usia remaja sekitar tahun 1994. Dunia tulis-menulis baginya bukan sekadar hobi, melainkan ruang untuk merawat perasaan, kegelisahan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang ia jumpai dalam kehidupan sosial. Di tengah aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, aktivis sosial, pembina pesantren, dan penggerak komunitas literasi, ia tetap menjaga disiplin menulis hingga karya-karyanya tersebar di berbagai media lokal maupun nasional.
Namanya dikenal luas di lingkungan sastra Madura karena konsisten mengangkat tema perempuan, keluarga, spiritualitas, dan budaya lokal. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di berbagai media seperti majalah Horison, Kartini, Nova, Republika, Surya, Surabaya Post, tabloid Cempaka, Story, Ummi, hingga media-media lokal di Madura. Ia juga menulis puisi, artikel, dan cerpen berbahasa Madura.
Joe Mawar percaya bahwa menulis membutuhkan komitmen sebagaimana cinta. Baginya, ruang publik yang luas memberi kemungkinan bagi seorang penulis untuk terus menemukan inspirasi baru. Karena itulah ia aktif di berbagai organisasi literasi dan sosial di Sumenep. Ia tercatat sebagai pengurus komunitas literasi Kata Bintang serta pernah menjadi Ketua DKK Ibu Rumah Tangga KPI Cabang Sumenep. Dalam aktivitas sosial lain, ia juga terlibat di organisasi perempuan NU dan kegiatan advokasi desa.
Perjalanan kepenulisannya mulai memperoleh perhatian lebih luas ketika cerpennya yang berjudul Mati Tua memenangkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2009, lalu diterbitkan pada 2010. Cerpen itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sastranya. Tema kesepian, usia tua, dan relasi manusia dalam cerpen tersebut memperlihatkan kekuatan Joe Mawar dalam menyelami psikologi tokoh-tokohnya.
Selain cerpen, ia juga menulis naskah drama radio. Karyanya berjudul Buruk Sangka bahkan pernah menjadi drama radio favorit yang disiarkan di sejumlah stasiun RRI di Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bertuturnya tidak hanya hidup di halaman buku, tetapi juga mampu bekerja melalui medium audio yang mengandalkan kekuatan dialog dan suasana.
Salah satu pencapaian penting lainnya adalah ketika cerpennya berjudul Mariah dimuat di majalah sastra Horison dan kemudian dibukukan dalam antologi Perempuan Cerpenis Indonesia Angkatan 2000 yang dikuratori oleh Korrie Layun Rampan. Kehadiran namanya dalam antologi tersebut menjadi penanda bahwa suara kepenulisan perempuan dari Madura mampu berdialog dengan peta sastra Indonesia yang lebih luas.
Dalam dunia buku, Joe Mawar dikenal melalui sejumlah karya tunggal yang memperlihatkan perkembangan tema dan gaya kepenulisannya. Buku-bukunya antara lain:
- Mati Tua — kumpulan cerpen yang banyak berbicara tentang kehidupan masyarakat kecil, perempuan, kesepian, dan pergulatan batin.
- Lelaki Suci — novel bernuansa religius dan pesantren yang diterbitkan oleh JWriting Soul Publishing pada 2022. Novel ini mengangkat persoalan perjodohan, kehidupan keluarga kiai, serta pergulatan perempuan dalam tradisi pesantren.
- Bintang Jatuh di Hati Afnani — novel yang disebut sebagai karya lanjutannya setelah Lelaki Suci.
- TORA — memuat salah satu cerpen berbahasa Madura karya Joe Mawar pada 2017.
Selain buku-buku tersebut, sejumlah cerpennya juga tersebar dalam berbagai antologi sastra daerah maupun nasional, meskipun tidak seluruh data penerbitannya terdokumentasi secara digital.
Yang menarik dari Joe Mawar adalah cara ia merawat identitas Madura dalam karya-karyanya. Ia tidak sekadar menggunakan latar Madura sebagai tempelan geografis, tetapi menghadirkan bahasa, tradisi, cara pandang masyarakat, hingga spiritualitas pesantren sebagai napas cerita. Dalam beberapa cerpennya, pembaca dapat merasakan aroma kampung, kehidupan perempuan desa, relasi keluarga santri, dan nilai-nilai religius yang hidup di tengah masyarakat Madura.
Cerpennya berjudul Batal Haji misalnya, memperlihatkan bagaimana ia mampu mengolah kesederhanaan hidup masyarakat desa menjadi cerita yang menyentuh dan spiritual. Tokoh-tokohnya dekat dengan kehidupan rakyat biasa, tetapi memiliki kedalaman batin yang kuat.
Di luar dunia sastra, Joe Mawar juga dikenal aktif menjadi narasumber pelatihan menulis dan seminar literasi. Ia termasuk penulis yang percaya bahwa literasi harus tumbuh dari komunitas dan ruang-ruang kecil masyarakat. Karena itu, keterlibatannya di komunitas literasi menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya.
Di tengah derasnya arus budaya populer dan dominasi sastra perkotaan, Joe Mawar tetap memilih berdiri di jalur yang ia yakini: menulis tentang manusia-manusia kecil, perempuan, tradisi, dan nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat Madura. Dari Sumenep, ia membuktikan bahwa sastra tidak harus lahir dari pusat kota besar. Sastra bisa tumbuh dari desa, dari ruang keluarga sederhana, dari suara perempuan yang tekun menjaga kata-kata agar tetap hidup.
(Ruli)
