![]() |
| Lilik Rosida Irmawati bersama D. Zawawi Imron (kiri) |
Pagi itu itu, Selasa, 17 Oktober 2028, di Balai Budaya Cak Durasim, Surabaya, seorang perempuan bertubuh semampai berdiri perlahan dari kursinya. Namanya dipanggil sebagai penerima Anugerah Sutasoma 2018. Dengan langkah tenang menuruni tangga berkarpet merah, ia melemparkan senyum hangat kepada hadirin yang memberi tepuk tangan. Penampilannya sederhana—tunik batik, celana panjang, sepatu kulit, dan kerudung rapi—namun kiprah hidupnya jauh dari kata biasa. Ia adalah Lilik Rosida Irmawati.
Perempuan kelahiran Jember, 16 Juli 1964 ini telah mengabdikan hidupnya pada dunia pendidikan, sastra, dan literasi. Sejak tahun 1987, ia menjadi guru, sebuah profesi yang dijalaninya dengan penuh kesungguhan hingga akhirnya dipercaya menjadi kepala sekolah pada 2012. Ia menutup masa pengabdiannya sebagai pendidik pada Agustus 2024, setelah lebih dari tiga dekade menyalakan cahaya ilmu.
Anugerah Sutasoma adalah penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur untuk mengapresiasi sastrawan, pegiat sastra, komunitas, dan pendidik, yang biasanya diumumkan sekitar bulan Oktober.
Namun, bagi Lilik, ruang kelas bukan satu-satunya tempat untuk berbagi pengetahuan. Di SDN Pabian 1, Kecamatan Kota Sumenep, ia memang mengajar, tetapi langkahnya melampaui batas sekolah (sejak 2024 telah memasuki purna tugas). Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Rumah Literasi Sumenep, sebuah gerakan yang menjangkau guru, siswa, hingga masyarakat di berbagai pelosok, termasuk pulau-pulau kecil di sekitar Madura. Di sana, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan cara memaknai hidup.
Jejak literasinya telah dimulai jauh sebelum ia menjadi guru. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bondowoso pada 1983, Lilik telah aktif menulis. Karya-karyanya—cerpen, esai, opini, feature, hingga artikel umum—menghiasi berbagai media cetak, seperti Bhirawa, Karya Darma, Surya, hingga sejumlah majalah pendidikan dan media nasional di Jakarta.
Semangat menulis itu terus menyala. Pada rentang 1999 hingga 2014, ia terjun sebagai jurnalis di Tabloid Infokom Kabupaten Sumenep dengan nama pena El Irmawati. Di sana, ia tidak hanya menulis berita dan melakukan wawancara, tetapi juga menyisipkan kritik sosial melalui opini yang tajam namun berimbang.
Produktivitasnya juga tampak dalam karya buku. Ia menulis Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura (2004), sebuah upaya mendokumentasikan kekayaan budaya lokal yang saat itu masih minim referensi. Buku lainnya, Gai’ Bintang (2007), memperkaya khazanah sastra daerah. Tak berhenti di situ, ia turut menerbitkan berbagai antologi pentigraf seperti Dari Robot Sempurna Sampai Alea Ingin ke Surga (2017), Laron-Laron Kota (2019), hingga edisi khusus Sepersejuta Milimeter dari Corona (2020). Karya terbarunya, kumpulan puisi Sampai Ambang Senja (2024), menjadi penanda bahwa kreativitasnya tetap hidup hingga kini.
Di dunia penyiaran, Lilik juga meninggalkan jejak penting. Ia pernah mengasuh program “Budaya Kita” di Radio Gema Sumekar (2010–2016), serta berbagai program literasi di RRI Pro 1 Sumenep, seperti acara pendidikan (2004–2008) dan “Rumah Literasi” (2017–2019). Melalui siaran radio, ia memperluas jangkauan literasi, menghadirkan diskusi lintas disiplin dengan narasumber yang kompeten.
Tak hanya itu, ide-ide kreatifnya melahirkan program Eksaina (Ekspresi Anak Indonesia), yang mendorong siswa dan guru untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus keterampilan berbicara di depan publik sebagai presenter radio. Baginya, literasi adalah keterampilan hidup yang harus dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan.
Perjalanan hidupnya juga tak lepas dari peran keluarga. Ia bertemu dengan suaminya, Saiful Anwar—yang dikenal dengan nama pena Syaf Anton—pada 1982 di sebuah perusahaan media. Dua tahun kemudian, mereka menikah. Dari keluarga kecil itu, Lilik terus tumbuh sebagai ibu dari tiga anak dan kini menjadi nenek bagi dua cucu, tanpa pernah meninggalkan dunia literasi.
Atas dedikasinya, berbagai penghargaan pun diraih. Selain Anugerah Sutasoma 2018 dari Balai Bahasa Jawa Timur sebagai Guru Bahasa dan Sastra Daerah Berdedikasi, ia juga menerima Sumenep Award 2018 sebagai tokoh literasi. Namun, bagi Lilik, penghargaan bukanlah tujuan utama.
Ia menjalani semua peran—guru, penulis, jurnalis, penggerak literasi—dengan satu keyakinan sederhana: hidup harus memberi manfaat. Prinsip itu ia pegang sejak kecil, berangkat dari nasihat ayahnya.
“Apapun yang kita punya harus kita berikan. Tidak usah bicara apa yang kita dapatkan, tetapi apa yang kita lakukan,” tuturnya suatu ketika.
Dalam diri Lilik Rosida Irmawati, sastra tidak hanya hadir sebagai karya, tetapi sebagai jalan hidup. Ia menjadikan kata-kata sebagai jembatan—menghubungkan ilmu dengan masyarakat, pengalaman dengan generasi muda, dan pengabdian dengan makna kehidupan. Sebuah perjalanan sunyi yang justru menyala terang di banyak hati. (SP)
