![]() |
Maftuhah Jakfar saat membacakan puisi |
Lingkungan awalnya yang religius memberi warna kuat pada perkembangan estetik dan spiritual dalam karya-karyanya. Maftuhah merupakan alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, sebuah pesantren besar di Madura yang dikenal melahirkan banyak intelektual dan budayawan. Di ruang-ruang belajar pesantren itulah ia tidak hanya menyerap ilmu agama, tetapi juga mengasah kepekaan bahasa dan rasa. Tradisi membaca kitab, mendengar lantunan ayat suci, serta perjumpaan dengan teks-teks klasik membentuk fondasi kuat bagi gaya kepenulisannya.
Salah satu sumber inspirasi terpenting bagi Maftuhah adalah Al-Qur’an, khususnya juz 30 (Juz ‘Amma). Ia kerap menyebut bahwa keindahan persamaan bunyi, rima, dan irama dalam ayat-ayat pendek tersebut memiliki kekuatan puitik yang luar biasa. Dari sanalah ia belajar bagaimana kata dapat menjadi ritmis, sugestif, dan menyentuh lapisan emosi terdalam. Pengaruh ini tampak jelas dalam puisi-puisinya yang cenderung musikal, reflektif, dan sarat nuansa spiritual.
Perjalanan kepenulisannya tidak berhenti pada ekspresi personal. Maftuhah juga aktif membangun ekosistem literasi. Sejak tahun 2021, ia mengelola Komunitas Surat Jibril (KSJ), sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah bagi para penulis untuk berbagi, belajar, dan berkembang bersama. Melalui komunitas ini, ia tidak hanya menulis, tetapi juga menyalakan semangat literasi di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. KSJ menjadi bukti bahwa baginya, menulis bukan sekadar aktivitas individual, melainkan gerakan kolektif yang perlu dirawat.
Selain aktif di dunia literasi, Maftuhah juga menjalani profesi sebagai pengajar di STIA Menarasiswa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat. Perannya sebagai akademisi memperkaya perspektifnya dalam menulis. Ia berada di persimpangan antara dunia pendidikan, spiritualitas, dan sastra—tiga ranah yang saling menghidupi dalam karya-karyanya. Pengalaman mengajar memberinya kedekatan dengan dinamika generasi muda, sekaligus memperluas cakrawala tema yang ia angkat.
Dalam hal karya, Maftuhah Jakfar telah menghasilkan sejumlah tulisan yang terhimpun dalam berbagai buku, baik antologi bersama maupun karya tunggal. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan kreatifnya adalah terbitnya buku kumpulan puisi tunggal berjudul Lubuk Laut pada tahun 1995. Buku ini menjadi penanda awal keseriusannya dalam dunia sastra, sekaligus menunjukkan kedalaman refleksi yang telah ia miliki sejak dini. “Lubuk Laut” menghadirkan puisi-puisi yang tenang namun dalam, seperti samudra yang menyimpan banyak rahasia di bawah permukaannya.
Setelah perjalanan panjang dalam dunia literasi, Maftuhah kembali menghadirkan karya yang mempertegas identitas kepenulisannya melalui buku Surat Jibril yang diterbitkan oleh Istana Agency pada tahun 2023. Buku ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga representasi perjalanan spiritual dan intelektualnya. Judul “Surat Jibril” sendiri mengandung makna simbolik yang kuat—seolah merujuk pada wahyu, pesan, dan perantara antara langit dan bumi. Dalam buku ini, pembaca dapat merasakan bagaimana bahasa menjadi medium kontemplasi sekaligus komunikasi yang intim.
Peluncuran dan pembahasan buku ini bahkan mendapat ruang dalam sebuah bincang sastra di Kancakona Kopi pada Juli 2023. Forum tersebut menjadi ajang apresiasi sekaligus dialog atas karya Maftuhah, mempertemukan penulis dengan pembaca dan komunitas sastra yang lebih luas.
Sebagai penulis, Maftuhah Jakfar menempuh jalur yang tidak selalu gemerlap, tetapi penuh ketekunan. Ia menulis dari ruang-ruang sunyi, dari pengalaman batin, dan dari kedekatannya dengan teks-teks suci. Namun justru dari situlah kekuatan karyanya lahir—jujur, reflektif, dan memiliki kedalaman spiritual yang khas.
Dalam lanskap sastra Indonesia yang terus bergerak, kehadiran Maftuhah menjadi penting sebagai pengingat bahwa akar tradisi, religiusitas, dan komunitas masih memiliki tempat yang kuat. Ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk merawat bahasa, membangun jejaring literasi, dan menghidupkan kembali kepekaan yang sering kali terabaikan.
Maftuhah Jakfar adalah contoh bagaimana kata dapat tumbuh dari iman, dipupuk oleh pengalaman, dan dibagikan melalui komunitas. Dari Batuputih hingga Bogor, dari juz amma hingga forum sastra, ia terus berjalan—membawa cahaya kecil bernama kata, yang tak pernah padam.
(Redaksi Sastra Perempuan)
